Umat Islam


DOSA YANG LEBIH BESAR DARI BERZINA

Ditulis dalam Peningkatan Iman oleh Guruh Rio Samudra pada 26 Oktober 2010
Tags:

Pada suatu senja yang lenggang, terlihat seorang wanita berjalan terhuyung-huyung. Pakaianya yang serba hitam menandakan bahwa ia berada dalam dukacita yang mencekam. Kerudungnya menagkup rapat hampir seluruh wajahnya. Tanpa hias muka atau perhiasan menempel di tubuhnya. Kulit yang bersih, badan yang ramping dan roman mukanya yang ayu, tidak dapat menghapus kesan kepedihan yang tengah merosakkan hidupnya. Ia melangkah terseret-seret mendekati kediaman rumah Nabi Musa a.s. Diketuknya pintu pelan-pelan sambil mengucapkan uluk salam. Maka terdengarlah ucapan dari dalam “Silakan masuk”.

 

Perempuan cantik itu lalu berjalan masuk sambil kepalanya terus merunduk. Air matanya berderai tatkala ia berkata, “Wahai Nabi Allah. Tolonglah saya. Doakan saya agar Tuhan berkenan mengampuni dosa keji saya.” “Apakah dosamu wahai wanita ayu?” tanya Nabi Musa a.s. terkejut. “Saya takut mengatakannya.”jawab wanita cantik. “Katakanlah jangan ragu-ragu!” desak Nabi Musa. Maka perempuan itupun terpatah bercerita, “Saya… telah berzina.

 

Kepala Nabi Musa terangkat, hatinya tersentak. Perempuan itu meneruskan, “Dari perzinaan itu saya pun… lantas hamil. Setelah anak itu lahir, langsung saya… cekik lehernya sampai… tewas,” ucap wanita itu seraya menangis sejadi-jadinya. Nabi Musa berapi-api matanya. Dengan muka berang ia mengherdik, “Perempuan bejad, enyah kamu dari sini! Agar siksa Allah tidak jatuh ke dalam rumahku karena perbuatanmu. Pergi!”… teriak Nabi Musa sambil memalingkan mata karena jijik. Perempuan berwajah ayu dengan hati bagaikan kaca membentur batu, hancur luluh segera bangkit dan melangkah surut.

 

Dia terantuk-hantuk keluar dari dalam rumah Nabi Musa. Ratap tangisnya amat memilukan. Ia tak tahu harus kemana lagi hendak mengadu. Bahkan ia tak tahu mau dibawa kemana lagi kaki-kakinya. Bila seorang Nabi saja sudah menolaknya, bagaimana pula manusia lain bakal menerimanya? Terbayang olehnya betapa besar dosanya, betapa jahat perbuatannya.

 

Ia tidak tahu bahwa sepeninggalnya, Malaikat Jibril turun mendatangi Nabi Musa. Sang Ruhul Amin Jibril lalu bertanya, “Mengapa engkau menolak seorang wanita yang hendak bertaubat dari dosanya? Tidakkah engkau tahu dosa yang lebih besar daripadanya?” Nabi Musa terperanjat. “Dosa apakah yang lebih besar dari kekejian wanita pezina dan pembunuh itu?” Maka Nabi Musa dengan penuh rasa ingin tahu bertanya kepada Jibril. “Betulkah ada dosa yang lebih besar daripada perempuan yang nista itu?” “Ada!” jawab Jibril dengan tegas. “Dosa apakah itu?” tanya Musa kian penasaran.”Orang yang meninggalkan sholat dengan sengaja dan tanpa menyesal. Orang itu dosanya lebih besar dari pada seribu kali berzina” Mendengar penjelasan ini Nabi Musa kemudian memanggil wanita tadi untuk menghadap kembali kepadanya. Ia mengangkat tangan dengan khusuk untuk memohonkan ampunan kepada Allah untuk perempuan tersebut.

 

Nabi Musa menyedari, orang yang meninggalkan sholat dengan sengaja dan tanpa penyesalan adalah sama saja seperti berpendapat bahwa sholat itu tidak wajib dan tidak perlu atas dirinya. Berarti ia seakan-akan menganggap remeh perintah Tuhan, bahkan seolah-olah menganggap Tuhan tidak punya hak untuk mengatur dan memerintah hamba-Nya. Sedang orang yang bertobat dan menyesali dosanya dengan sungguh-sungguh berarti masih mempunyai iman di dadanya dan yakin bahwa Allah itu berada di jalan ketaatan kepada-Nya. Itulah sebabnya Tuhan pasti mau menerima kedatangannya.

(Dikutip dari buku 30 kisah teladan – KH Abdurrahman Arroisy)

 

Dalam hadis Nabi S.A.W disebutkan : Orang yang meninggalkan sholat lebih besar dosanya dibanding dengan orang yang membakar 70 buah Al-Qur’an, membunuh 70 nabi dan bersetubuh dengan ibunya di dalam Ka’bah.

 

Dalam hadis yang lain disebutkan bahwa orang yang meninggalkan sholat sehingga terlewat waktu, kemudian ia mengqadanya, maka ia akan disiksa dalam neraka selama satu huqub. Satu huqub adalah delapan puluh tahun. Satu tahun terdiri dari 360 hari, sedangkan satu hari diakherat perbandingannya adalah seribu tahun di dunia.

 

Demikianlah kisah Nabi Musa dan wanita pezina dan dua hadis Nabi, mudah-mudahan menjadi pelajaran bagi kita dan timbul niat untuk melaksanakan kewajiban sholat dengan istiqomah. Tolong sebarkan kepada saudara-saudara kita yang belum mengetahui.

 

Subhanakallahumma wabihamdika asyhadu allaa ilaaha illa anta, astaghfiruka wa atuubuilaiik.

“Terima Kasih Ayah, kami tak akan pernah melupakanmu”

Ditulis dalam Renungan oleh Guruh Rio Samudra pada 24 September 2010
Tags: ,

“Ayah, terima kasih” ucap Dina pagi itu.

Didi yang sedang merapikan kemeja dan memantaskan dasi terkejut mendengar suara anak tunggalnya. Raut mukanya kebingungan, Didi tidak mau mematahkan senyum kecil di wajah lucu Dina. Tapi tidak di pungkiri rasa ingin tahu ayah satu anak ini akan hal manis yang terucap dari bibir Dina lantas membuatnya bertanya.

“Untuk apa sayang???” tanya ayah dengan tenang.

Senyum simpul milik Dina masih saja mengembang, wajah dibalik pintu itu secepat kilat berubah menjadi tawa kecil hingga gigi-gigi mungil milik murid kelas dua sekolah dasar itu menyembul, segera di tutupinya tawa tadi dengan tangan kanannya. Kontan ekspresi manager sebuah perusahaan swasta itu bertambah heran. Mengingat-ingat ada apa dengan hari ini? Mana tahu dia melupakan hari bersejarah, tapi ini bulan April, ulang tahun Dina tiga bulan lagi, sedangkan Bunda ulang tahun tepat pada tanggal 31 Desember, maka ulang tahun Bunda tidak pernah terlewatkan, karena dirayakan diseluruh dunia. Atau ini ucapan terima kasih dari si bungsu untuk hadiah atas nilai semester kemarin yang berhasil merebut juara ketiga dikelas. Akh…tapi itu kan sudah lama sekali. Didi segera menghampiri dan membungkukan badannya, memegangi tubuh kecil Dina yang sudah siap dengan seragam merah putih, lengkap dengan dasi. (lagi…)

Kasih Ibu Sepanjang Masa

Ditulis dalam Renungan oleh Guruh Rio Samudra pada 22 September 2010
Tags:

Kehadiran seorang ibu bagaikan lautan rahmat yang tidak bisa dibalas dengan harta benda di dunia.  Besar kasih sayang kepada anaknya melebihi rasa sayang kepada dirinya sendiri. Namun kita sering sekali mendengar berita betapa banyaknya seorang anak yg tidaj menyadarinya sehingga diapun berbuat durhaka kepada ibunya.. wal ‘iyadzu billah.

Sahabat Rasulullah SAW , Ibnu Umar RA  pernah melihat seorang laki-laki menggendong ibunya dalam melaksanakan Thowaf . Lelaki itu bertanya ” Apakah ini sudah melunasi jasanya(padaku) wahai Ibnu Umar ?”. Beliau menjawab  ” Tidak,meski hanya satu jeritan kesakitan ( saat melahirkan) “. (lagi…)

HIKMAH DAN MANFAAT ZAKAT

Ditulis dalam Peningkatan Iman oleh Guruh Rio Samudra pada 5 September 2010
Tags:

Zakat adalah ibadah dalam bidang harta yang mengandung hikmah dan manfaat yang demikian besar dan mulia, baik yang berkaitan dengan orang yang berzakat (muzakki), penerimanya (mustahik), harta yang dikeluarkan zakatnya, maupun bagi masyarakat keseluruhan. (Abdurahman Qadir, Zakat Dalam Dimensi Mahdhah dan Sosial, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 1998, hlm. 82) Hikmah dan manfaat tersebut antara lain tersimpul sebagai berikut.

Pertama, sebagai perwujudan keimanan kepada Allah SWT, mensyukuri nikmat-Nya, menumbuhkan akhlak mulia dengan rasa kemanusiaan yang tinggi, menghilangkan sifat kikir, rakus dan materialistis, menumbuhkan ketenangan hidup, sekaligus membersihkan dan mengembangkan harta yang dimiliki. Hal ini sejalan dengan firman Allah SWT dalam surah at-Taubah: 103 dan surah ar-Ruum: 39.  Dengan bersyukur, harta dan nikmat yang dimiliki akan semakin bertambah dan berkembang.

Firman Allah dalam surah Ibrahim: 7,  Artinya: “Dan (ingatlah juga) tatkala Tuhanmu memaklumkan: Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari nikmat-Ku, maka sesungguhnya adzab-Ku sangat pedih.” (lagi…)

Zakat dan Kedudukanya Dalam Islam

Ditulis dalam Peningkatan Iman oleh Guruh Rio Samudra pada 5 September 2010
Tags:

Apabila Islam datang sebagai agama penyudah,“zakat” telah dijadikan sebagai salah satu rukunnya yang lima. Ia merupakan suatu peningkatan kepada sistem yang telah sedia ada di bawah agama-agama langit sebelum itu, yaitu “Ihsan”.  Walaupun kedua sistem ini ada persamaannya dalam sifat sebagai sumbangan pihak yang berada kepada golongan yang memerlukan, namun zakat adalah hak yang  boleh dituntut oleh mereka yang berhak menerimanya, berbanding Ihsan yang  lebih  bersifat sumbangan sukarela saja. Peningkatan ini banyak berasaskan kepada hakikat Islam adalah suatu agama dan cara hidup, atau diistilahkan oleh sebagian orang sebagai ad-Din (lagi…)

Halaman Berikutnya »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.